Mulutku memang bergerak berlari dan berjalan
Hanya lidahku terkunci rapat
Terkunci karena senyumanmu
Terkunci karena kekagumanku
Kau terlalu indah untuk dijelaskan dengan kata
Terlalu hebat untuk dirangkai dengan kalimat
Hanya saja kau seperti langit pagi
Indah memperbaiki hati
Namun tinggi sangat tinggi
Terlalu jauh hingga ku tak dapat singgah
Hanya saja harapku tak ingin punah
Tetap terjaga dalam hatiku
Mukjizat nyata
Minggu, 27 Desember 2015
Kamis, 10 Desember 2015
Kosong
Hitam
Sunyi
Gelap
Malam kelabu
Bintang pun enggan menunjukkan wajahnya
Malam sepi
Kakiku melangkah di atas kerikil
Ku lihat buram remang lampu jalan
Hening
Sendiri
Kemana semua kehidupan pergi?
Angin pun seperti enggan menemaniku
Hampa
Kosong
Bahkan semut pun tak tampak dimana
Ah sudahlah
Mungkin alam sedang berkompromi
Menyeimbangkan perasaannya dengan perasaanku
Ah sudahlah
Mungkin alam sedang menjagaiku
Agar tetap setia dalam keheningan hati
Sunyi
Gelap
Malam kelabu
Bintang pun enggan menunjukkan wajahnya
Malam sepi
Kakiku melangkah di atas kerikil
Ku lihat buram remang lampu jalan
Hening
Sendiri
Kemana semua kehidupan pergi?
Angin pun seperti enggan menemaniku
Hampa
Kosong
Bahkan semut pun tak tampak dimana
Ah sudahlah
Mungkin alam sedang berkompromi
Menyeimbangkan perasaannya dengan perasaanku
Ah sudahlah
Mungkin alam sedang menjagaiku
Agar tetap setia dalam keheningan hati
Sabtu, 28 November 2015
Tersipu
Aku tersipu
malu
Pipiku
memerah seperti apel merah
Senyumku
mengembang seperti kue bolu dalam adonan
Aku tersipu
malu
Mataku tak
berhenti bersinar menyaingi matahari di langit
Jantungku
bergerak lebih cepat mengalahkan pelari terbaik dunia
Aku tersipu
malu
Seperti
burung yang terlepas dari sangkar
Seperti anak
penyu yang baru menemukan laut
Aku tersipu
malu akan hadirmu yang semu
Akan setiap tanyaku
tentangmu
Akan setiap
anganku bersamamu
Akan setiap
harapku terhadapmu
Juga mimpiku
akan kehadiranmu yang nyata
Hingga
akhirnya sipuku kau jawab
Saat semua
kekurangan dan kelebihanmu
Menjadi
alasan bagiku untuk terus mengasihimu
Kamis, 26 November 2015
Angan
Pagi
berganti siang
Siang
berganti malam
Seperti
biasa
Malam ini
aku menunggu teleponmu
Kriiing
Kriiing
Telepon
darimu
Kita
berbicara banyak hal
Menghabiskan
ratusan menit ribuan detik untuk melepas rindu
Ku dengar
tawamu begitu gurih diujung kabel telepon
Sesaat aku
terbayang senyum manismu
Berharap
waktu cepat berlari
Ingin
kembali bertemu denganmu
Ku katakan
aku rindu padamu
Kau katakan
kau lebih rindu padaku
Malam ini begitu
sempurna
Hei
Seseorang
mengagetkanku
Membawaku
kembali pada titik sadar
Tunggu
Ternyata tadi
hanya angan-anganku
Rabu, 25 November 2015
Harapan Si Naif
Hal terbodoh
yang harus ku akui adalah aku mengagumimu dari jauh
Hal terpolos
yang harus ku sadari adalah kita bahkan tak saling mengenal
Hal ternaif
yang ku terima adalah aku terlalu sombong untuk menyapamu
Lantas
mengapa aku kemudian memutuskan untuk mencintaimu?
Tunggu...
Apakah ini
cinta? Atau sekedar rasa kagumku pada dirimu?
Kemudian aku
bertanya-tanya
Apakah
perasaan ini terlalu bodoh untuk ku lanjutkan?
Aku
mengenalmu melalui dua dimensi
Aku
menyapamu dalam kata bisu
Mengabarimu
lewat ulasan senyum pada foto dirimu
Yang ku
sadar tak akan kau balas
Tak akan
pernah kau balas
Tetapi mengapa
aku terus bercerita pada Tuhan tentangmu?
Mengapa aku
terus mendoakan aktivitasmu?
Mengapa aku
terus mengharapkan yang terbaik di tiap harimu?
Ah
Aku tau
Mungkin
dalam hatiku ada harap
Kelak suatu saat kita akan bertemu
Lalu
keberadaanku menjadi nyata dalam hidupmu
Selasa, 24 November 2015
Cerita Hujan
Tik
Tik
Hujan turun lagi
Seperti tau aku ingin menyampaikan kata
Namun kata saja tidak cukup
Tapi itu tak mengapa
Karena kata mewakili hatiku
Lebat
Semakin lebat
Air hujan berlomba menabrak atap kamarku
Seperti kata yang berlomba keluar dari mulutku
Menyuarakan isi hatiku
Hujan bertanya apa yang ingin ku katakan
Ku jawab semua tentang dirinya
Dirinya yang berlomba memenuhi hatiku
Seperti hujan berlomba menghiasi jendela kamarku
Hening
Hujan pergi
Sambil membawa pesan isi hatiku
Mungkin hujan akan menghampirimu
Sambil bercerita betapa dirimu memenuhi hatiku
Senin, 23 November 2015
Suka, Cinta, atau Kagum?
Aku mendapati diriku terpaku
Terpaku mendapati dirimu begitu indahnya dengan pencapaianmu
Bukan karena pencapaianmu saat ini yang membuatku terpaku
Tetapi pada senyumanmu yang sangat manis
Bukan karena senyum manismu hatiku bergejolak
Tetapi karena kokohnya bentuk wajahmu yang menceritakan kegigihanmu
Bukan juga karena bentuk wajah dan kegigihanmu yang menumbuhkan bunga dihatiku
Tetapi karena indah warna kulitmu
Bukan karena warna kulitmu aku tersenyum bodoh
Tetapi karena kacamata yang menghiasi wajah kokohmu
Bukan karena kacamatamu aku sekarang tersipu malu
Tetapi karena kebanggaanku terhadap siapa dirimu
Sekarang bunga dihatiku telah bermekaran
Bermekaran melihat wajahmu dalam bingkai foto yang bisu
Tapi bukan karena wajahmu yang membuatku bunga hatiku bermekaran
Lantas apa alasanku menjadi terpaku karenamu?
Aku terpaku pada semua yang ada padamu
Pada semua perasaan suka, cinta, dan kagum yang tidak dapat kujelaskan
Tidak dapat kujelaskan mengapa perasaan ini jatuh kepada dirimu
Aku, yang sedang terpaku.
Langganan:
Postingan (Atom)